TUGAS
KELOMPOK MEDIA PEMBELAJARAN
“KONSEP
MEDIA PEMBELAJARAN”
DISUSUN OLEH
KELOMPOK 1:
ELIZA
121200049
INDAH AYU INDRIANI
121200069
PRODI :
BIMBINGAN DAN KONSELING
SEMESTER :
IV (GENAP)
KELAS : A –
PAGI
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN
GURU REPUBLIK INDONESIA
(IKIP –
PGRI) PONTIANAK
2014
A. Pengertian Media Pembelajaran
Secara umum media merupakan kata
jamak dari “medium” yang berarti perantara atau pengantar. Kata media berlaku
untuk berbagai kegiatan atau usaha, seperti dalam penyampaiaan pesan, media
pengantar magnet atau panas dalam bidang teknik. Istilah media digunakan juga
dalam bidang pengajaran atau pendidikan sehingga istilahnya menjadi media
pendidikan atau media pebelajaran.
Ada beberapa konsep atau definisi
media pendidikan atau media pembelajaran. Rossi dan Breidle (1996:3)
mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah seluruh alat dan bahan yang dapat dipakai untuk mencapai
tujuan pendidikan seperti radio, televisi, buku, koran, majalah dan sebagainya.
Menurut Rossi alat- alat semacam radio dan televisi kalau digunakan dan
diprogram untuk pendidikan maka merupakan media pembelajaran.
Namun demikian, media bukan hanya
berupa alat atau bahan saja, akan tetapi hal-hal yang memungkinkan siswa dapat
memperoleh pengetahuan. Menurut Gerlach secara umum media itu meliputi orang,
bahan, peralatan atau kegiatan yang menciptaan kondisi yang memungkinkan siswa
memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Jadi, dalam pengertian ini
media bukan hanya alat perantara seperti TV, radio, slide, bahan cetakan,
tetapi meliputi orang atau manusia sebagai sumber belajar atau juga berupa
kegiatan semacam diskusi, seminar, karya, wisata, simulasi, dan lain sebagainya
yang dikondisikan untuk menambah pengetahuan dan wawasan, mengubah sikap siswa,
atau untuk menambah keterampilan.
Selain pengertian di atas, ada juga
yang berpendapat bahwa media pengajaran meliputi perangankat keras (hardware)
dan perangkat lunak (software). Hardware adalah alat- alat yang dapat
mengantarkan pesan seperti radio dan Tv. Sedangkan software adalah isi program
yang mengandung pesan seperti informasiyang terdapat pada transparansi atau
buku dan bahan-bahan cetakan lainnya, cerita yang terkandung dalam film atau
materi yang disuguhkan dalam bentuk bagan, grafik, diagram, dan lain
sebagainya.
Dalam pengertian teknologi
pendidikan, media atau bahan sebagai sumber belajar merupakan komponen dari
sistem pembelajaran di samping pesan, orang, teknik latar dan peralatan.
Pengertian media ini masih sering dikacaukan dengan peralatan. Media atau bahan
adalah perangkat lunak (software) berisi pesan atau informasi pendidikan yang
biasanya disajikan dengan menggunakan peralatan. Peralatan atau perangkat keras
(hardware) merupakan sarana untuk dapat menampilkan pesan yang terkandung pada
media tersebut (Arief S. Sadiman dkk, 2006: 19). Jadi, media terdiri atas dua
unsur yaitu perangkat keras (hardware) atau alat dan perangkat lunak (software)
atau bahan. Transparansi, program video adalah software atau bahan. Software
atau bahan tersebut hanya bisa disajikan jika tersedia alatnya, yaitu OHP dan
video player.
Agar lebih jelas lagi perlu juga
dikemukakan konsep lain yang sangat berkaitan dengan media pembelajaran, yaitu
sumber belajar. Konsep sumber belajar memiliki cakupan yang lebih luas, yaitu
semua sumber (baik berupa data, orang, benda) yang dapat digunakan untuk
memberi fasilitas/kemudahan belajar bagi peserta didik.
Sumber belajar meliputi:
- Pesan (ide, fakta, data, ajaran, informasi, dll
- Orang (guru, dosen, instruktur, widyaiswara, dll)
- Bahan (buku teks, modul, transparansi, kaset program audio, film, program CAI/CBI, dll
- Teknik (praktikum, demonstrasi, diskusi, tutorial, pembelajaran mandiri, dll)
- Lingkungan (gedung sekolah, kebun, pasar, dll)
B.
Posisi Media Pembelajaran
Bruner (1966)
mengungkapkan ada tiga tingkatan utama modus belajar, seperti: enactive
(pengalaman langsung), iconic (pengalaman piktorial atau gambar), dan symbolic
(pengalaman abstrak). Pemerolehan pengetahuan dan keterampilan serta perubahan
sikap dan perilaku dapat terjadi karena adanya interaksi antara pengalaman baru
dengan pengalaman yang telah dialami sebelumnya melalui proses belajar. Sebagai
ilustrasi misalnya, belajar untuk memahami apa dan bagaimana mencangkok. Dalam
tingkatan pengalaman langsung, untuk memperoleh pemahaman pebelajar secara
langsung mengerjakan atau membuat cangkokan. Pada tingkatan kedua, iconic,
pemahaman tentang mencangkok dipelajari melalui gambar, foto, film atau rekaman
video. Selanjutnya pada tingkatan pengalaman abstrak, siswa memahaminya lewat
membaca atau mendengar dan mencocokkannya dengan pengalaman melihat orang
mencangkok atau dengan pengalamannya sendiri.
Berdasarkan
uraian di atas, maka dalam proses belajar mengajar sebaiknya diusahakan agar
terjadi variasi aktivitas yang melibatkan semua alat indera pembelajar. Semakin
banyak alat indera yang terlibat untuk menerima dan mengolah informasi (isi
pelajaran), semakin besar kemungkinan isi pelajaran tersebut dapat dimengerti
dan dipertahankan dalam ingatan pembelajar. Jadi agar pesan-pesan dalam materi
yang disajikan dapat diterima dengan mudah (atau pembelajaran berhasil dengan
baik), maka pengajar harus berupaya menampilkan stimulus yang dapat diproses
dengan berbagai indera pebelajar. Pengertian stimulus dalam hal ini adalah
suatu “perantara” yang menjembatani antara penerima pesan (pembelajar) dan
sumber pesan (pengajar) agar terjadi komunikasi yang efektif.
Media
pembelajaran merupakan suatu perantara seperti apa yang dimaksud pada
pernyataan di atas. Dalam kondisi ini, media yang digunakan memiliki posisi
sebagai alat bantu dalam kegiatan pembelajaran, yaitu alat bantu mengajar bagi
guru (teaching aids). Misalnya alat-alat grafis, photografis, atau
elektronik untuk menangkap, memproses, dan menyususn kembali informasi visual
atau verbal. Sebagai alat bantu dalam mengajar, media diharapkan dapat
memberikan pengalaman kongkret, motivasi belajar, mempertinggi daya serap dan
retensi belajar siswa. Sehingga alat bantu yang banyak dan sering digunakan
adalah alat bantu visual, seperti gambar, model, objek tertentu, dan alat-alat
visual lainnya. Oleh karena dianggap sebagai alat bantu, guru atau orang yang
membuat media tersebut kurang memperhatikan aspek desainnya, pengembangan
pembelajarannya, dan evaluasinya.
Dengan kemajuan
teknologi di berbagai bidang, misalnya dalam teknologi komunikasi dan informasi
pada saat ini, media pembelajaran memiliki posisi sentral dalam proses belajar
dan bukan semata-mata sebagai alat bantu. Media pembelajaran memainkan peran
yang cukup penting untuk mewujudkan kegiatan belajar menjadi lebih efektif dan
efisien. Dalam posisi seperti ini, penggunaan media pembelajaran dikaitkan
dengan apa-apa saja yang dapat dilakukan oleh media, yang mungkin tidak mampu
dilakukan oleh guru (atau guru melakukannya kurang efisien). Dengan kehadiran
media pembelajaran maka posisi guru bukan lagi sebagai satu-satunya sumber
belajar, tetapi sebagai fasilitator. Bahkan pada saat ini media telah diyakini
memiliki posisi sebagai sumber belajar yang menyangkut keseluruhan lingkungan
di sekitar pembelajaran.
C.
Fungsi Media Pembelajaran
Dalam suatu proses belajar mengajar,
dua unsur yang amat penting adalah metode mengajar dan media pembelajaran .
kedua aspek ini saling berkaitan, pemilihan salah satu metode mengajar tertentu
akan mempengarui jenis media pembelajaran yang sesuai, meskipun masih ada
berbagai aspek lain yang harus diperhatikan dalam memilih media, antara lain
tujuan pembelajaran, jenis tugas dan respon yang diharapkan siswa kuasai
setelah pembelajaran belangsung, dan kontek pembelajaran termasuk karakteristik
siswa. Meskipun demikian, dapat dikatakan bahwa salah satu fungsi utama media
pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim,
kondisi, dan lingkungan belaran yang ditata dan diciptakkan oleh guru.
Hamalik (1986) mengemukakan bahwa
pemakai media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan
keinginan dan minat baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegitan
belajar, dan bahkan membawa pengaruh – pengaruh psikologis terhadap siswa.
Levie & Lentz (1982)
mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu
- Fungsi Atensi, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran
- Fungsi Afektif dapat dilihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar atau bergambar.
- Fungsi Kognitif terlihat dari temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.
- Fungsi Kompensatoris terlihat hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan kontek untuk memahami teks membantu siswa yanng lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan inpormasi dan mengingatnya kembali.
Menurut Kemp
& Dayton (1985 : 28), ada tiga pungsi utama apabila media pembelajaran itu digunakan untuk perorangan, kelompok, atau kelompok pendengar yang besar
jumlahnya, yaitu:
- Memotivasi minat atau tindakan.
- Menyajikan informasi.
- Memberi instruksi.
Menurut
Sudjana & Rivai (1992:2) mengemukakan manfaat media pembelajaran dalam
proses belajar siswa, yaitu:
- Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat motivasi belajar.
- Bahan pembelajran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pembelajaran.
- Metode mengajar akan lebih berpariasi, tidak semata – mata komunikasi verbal melalui penuturan kata – kata oleh guru sehingga siswa gidak bosan dan guru tidak kehabisa tenaga.
- Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrsikan, memerankan dan lain – lain.
Sedangkan
menurut Criticos (1996), tujuan pembelajaran, hasil belajar, isi materi ajar,
rangkaian dan strategi pembelajaran adalah kriteria untuk seleksi dan produksi
media. Dengan demikian, penataan pembelajaran (iklim, kondisi, dan lingkungan
belajar) yang dilakukan oleh seorang pengajar dipengaruhi oleh peran media yang
digunakan.
Sadiman, dkk
(1990) menyampaikan fungsi media (media pendidikan) secara umum, adalah sebagai
berikut:
(a) Memperjelas
penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat visual.
(b) Mengatasi
keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera, misal objek yang terlalu besar
untuk dibawa ke kelas dapat diganti dengan gambar, slide, dsb, peristiwa yang
terjadi di masa lalu bisa ditampilkan lagi lewat film, video, fota atau film
bingkai.
(c) Meningkatkan
kegairahan belajar, memungkinkan siswa belajar sendiri berdasarkan minat dan
kemampuannya, dan mengatasi sikap pasif siswa.
(d) Memberikan
rangsangan yang sama, dapat menyamakan pengalaman dan persepsi siswa terhadap
isi pelajaran.
Berdasarkan
atas beberapa fungsi media pembelajaran yang dikemukakan di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa penggunaan media dalam kegiatan belajar mengajar memiliki
pengaruh yang besar terhadap alat-alat indera. Terhadap pemahaman isi
pelajaran, secara nalar dapat dikemukakan bahwa dengan penggunaan media akan
lebih menjamin terjadinya pemahaman yang lebih baik pada siswa. Pembelajar yang
belajar lewat mendengarkan saja akan berbeda tingkat pemahaman dan
lamanya “ingatan” bertahan, dibandingkan dengan pembelajar yang belajar lewat melihat
atau sekaligus mendengarkan dan melihat.
Media
pembelajaran juga mampu membangkitkan dan membawa pembelajar ke dalam suasana
rasa senang dan gembira, di mana ada keterlibatan emosianal dan mental. Tentu
hal ini berpengaruh terhadap semangat mereka belajar dan kondisi pembelajaran
yang lebih hidup, yang nantinya bermuara kepada peningkatan pemahaman pembelajar
terhadap materi ajar.
Secara rinci, fungsi media dalam proses pembelajaran
adalah sebagai berikut:
- Menyaksikan benda yang ada atau peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Dengan perantaraan gambar, potret, slide, film, video, atau media yang lain, siswa dapat memperoleh gambaran yang nyata tentang benda/peristiwa sejarah.
- Mengamati benda/peristiwa yang sukar dikunjungi, baik karena jaraknya jauh, berbahaya, atau terlarang. Misalnya, video tentang kehidupan harimau di hutan, keadaan dan kesibukan di pusat reaktor nuklir, dan sebagainya.
- Memperoleh gambaran yang jelas tentang benda/hal-hal yang sukar diamati secara langsung karena ukurannya yang tidak memungkinkan, baik karena terlalu besar atau terlalu kecil. Misalnya dengan perantaraan paket siswa dapat memperoleh gambaran yang jelas tentang bendungan dan kompleks pembangkit listrik, dengan slide dan film siswa memperoleh gambaran tentang bakteri, amuba, dan sebaginya.
- Mendengar suara yang sukar ditangkap dengan telinga secara langsung. Misalnya, rekaman suara denyut jantung dan sebagainya.
- Mengamati dengan teliti binatang-binatang yang sukar diamati secara langsung karena sukar ditangkap. Dengan bantuan gambar, potret, slide, film atau video siswa dapat mengamati berbagai macam serangga, burung hantu, kelelawar, dan sebagainya.
- Mengamati peristiwa-peristiwa yang jarang terjadi atau berbahaya untuk didekati. Dengan slide, film, atau video siswa dapat mengamati pelangi, gunung meletus, pertempuran, dan sebagainya.
- Mengamati dengan jelas benda-benda yang mudah rusak/sukar diawetkan. Dengan menggunakan model/benda tiruan siswa dapat memperoleh gambaran yang jelas tentang organ-organ tubuh manusia seperti jantung, paru-paru, alat pencernaan, dan sebagainya.
- Dengan mudah membandingkan sesuatu. Dengan bantuan gambar, model atau foto siswa dapat dengan mudah membandingkan dua benda yang berbeda sifat ukuran, warna, dan sebagainya.
- Dapat melihat secara cepat suatu proses yang berlangsung secara lambat. Dengan video, proses perkembangan katak dari telur sampai menjadi katak dapat diamati hanya dalam waktu beberapa menit. Bunga dari kuncup sampai mekar yang berlangsung beberapa hari, dengan bantuan film dapat diamati hanya dalam beberapa detik.
- Dapat melihat secara lambat gerakan-gerakan yang berlangsung secara cepat. Dengan bantuan film atau video, siswa dapat mengamati dengan jelas gaya lompat tinggi, teknik loncat indah, yang disajikan secara lambat atau pada saat tertentu dihentikan.
- Mengamati gerakan-gerakan mesin/alat yang sukar diamati secara langsung. Dengan film atau video dapat dengan mudah siswa mengamati jalannya mesin 4 tak, 2 tak, dan sebagainya.
- Melihat bagian-bagian yang tersembunyi dari sutau alat. Dengan diagram, bagan, model, siswa dapat mengamati bagian mesin yang sukar diamati secara langsung.
- Melihat ringkasan dari suatu rangkaian pengamatan yang panjang/lama. Setelah siswa melihat proses penggilingan tebu atau di pabrik gula, kemudian dapat mengamati secara ringkas proses penggilingan tebu yang disajikan dengan menggunakan film atau video (memantapkan hasil pengamatan).
- Dapat menjangkau audien yang besar jumlahnya dan mengamati suatu obyek secara serempak. Dengan siaran radio atau televisi ratusan bahkan ribuan mahasiswa dapat mengikuti kuliah yang disajikan seorang profesor dalam waktu yang sama.
- Dapat belajar sesuai dengan kemampuan, minat, dan temponya masing-masing. Dengan modul atau pengajaran berprograma, siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan, kesempatan, dan kecepatan masing-masing
D. Kesimpulan
Dari uraian diatas, dapat
disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan
untuk memotivasi, merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik agar
peserta didik tidak bosan dan jenuh, sehingga dapat mendorong terciptanya
proses belajar pada diri peserta didik.
Media
pembelajaran memiliki posisi sentral dalam proses pembebelajaran, fungsi media
pembelajaran tersebut adalah sebagai alat bantu dalam kegiatan belajar
mengajar, membantu meningkatkan pemahaman siswa dan memudahkan penafsiran data
dalam proses pembelajaran.
E. Sumber Buku
Arsyad, Azhar. 2010. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.
http://pokoe-mimpiku.blogspot.com/2013/07/definisi-posisi-dan-fungsimedia.html#.UyE_va4poRw

