MAKALAH
KELOMPOK PERENCANAAN PENGAJARAN BK
“KONSEP
DASAR PERENCANAAN PENGAJARAN BK”
DOSEN PENGASUH: HASTIANI, M.Pd
DISUSUN OLEH KELOMPOK 1:
LIA TRISNAWATI
121200044
MERI DAHLIA
121200051
DESIANA
21200033
ELIZA
121200049
ELIZA
121200049
PRODI : BIMBINGAN
DAN KONSELING
SEMESTER : V (GANJIL)
KELAS : A –
PAGI
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU
PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
(IKIP – PGRI) PONTIANAK
2014
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan
kehadirat Allah SWT, karena atas berkat, rahmat, bimbingan, serta petunjuknya-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “KONSEP DASAR
PERENCANAAN PENGAJARAN BIMBINGAN DAN KONSEING” ini dengan baik dan tepat pada
waktunya.
Penulis mengucapkan banyak terimakasih
kepada pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan makalah ini,
terutama teman-teman kelompok 1 dan juga kepada Ibu Hastiani, M.Pd selaku dosen
pengasuh mata kuliah PERENCANAAN PENGAJARAN BIMBINGAN DAN KONSELING karena
telah memberi tugas ini.
Besar harapan penulis bahwa makalah ini
dapat bernilai baik, dan dapat digunakan dengan sebaik-baiknya. Penulis menyadari
bahwa makalah yang penulis susun ini belumlah sempurna, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dalam rangka penyempurnaan untuk
pembuatan makalah selanjutnya. Sebelum dan sesudahnya penulis ucapkan terimakasih.
Pontianak,
15 September 2014
Penulis
KELOMPOK
1
BAGIAN I
PENDAHULUAN
Indikator
keberhasilan pendidikan nasional tidak hanya dilihat dari penguasaan anak didik
secara akademis. Aspek psikomotor (gerak) dan afektif (rasa) menjadi bagian
yang tidak kalah pentingnya dalam mewujudkan kepribadian anak. Kecerdasan anak
didik dipahami tidak hanya dari sisi otak, tetapi juga perilaku dan sikap
positif anak. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional
kontekstual yang tertuang dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional.
Dalam
UU No. 20 Tahun 2003 tersebut tujuan pendidikan adalah untuk berkembangnya
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri,
dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Secara
tersirat, kemampuan yang harus dimiliki siswa selain aspek akademis juga aspek
perkembangan pribadi, sosial, kematangan intelektual dan sistem nilai
peserta didik. Terkait dengan itu bahwa pendidikan yang bermutu di Sekolah
Menengah Pertama (SMP) adalah pendidikan yang mengantarkan siswa pada
pencapaian standard akademis yang diharapkan dalam kondisi perkembangan diri
yang sehat dan optimal.
Siswa
SMP sebagian besar remaja awal yang memiliki karakteristik, kebutuhan dan
tugas-tugas perkembangan yang harus terpenuhi. Pada masa sekarang, remaja usia
SMP dihadapkan pada problematika social akibat dampak negative perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Berbagai hiburan dimedia massa secara
perlahan melakukan pendangkalan moral sehingga membentuk sikap
pragamtisme remaja. Mereka terobsesi hidup enak secara instant, kendati harus
“tersesat” di jalan.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Perencanaan Bimbingan
Konseling
Dalam
Jurnal yang berjudul The Importance of Leadership
an Management for Education, dari perspektif India, Sapre (2002: 102)
menyatakan bahwa perencanaan adalah serangkaian kegiatan diarahkan efisien dan
pemanfaatan yang efektif dari sumber daya organisasi dalam rangka mencapai
tujuan organisasi.
Penulis
ini berpendapat secara konsisten (Bush, 1986; 1995; 1999; 2003) bahwa manajemen
pendidikan harus terpusat terkait dengan akan tujuan atau tujuan pendidikan.
Ini adalah subjek terus perdebatan dan ketidaksepakatan, tetapi prinsip
menghubungkan kegiatan manajemen dan tugas untuk maksud dan tujuan dari sekolah
atau perguruan tinggi tetap penting.
Sedangkan penekanan pada tujuan
pendidikan adalah penting, hal ini tidak berarti bahwa semua tujuan atau
sasaran yang tepat, terutama jika mereka dipaksakan dari luar sekolah oleh
pemerintah atau badan resmi lainnya. Mengelola terhadap pencapaian tujuan
pendidikan sangat penting tetapi ini harus disetujuan dan disepakati oleh
sekolah dan masyarakat.
Dalam
Manajemen Bimbingan dan Konseling pengertian perencanaan menurut H. J. Burbach
dan L. E. Decker (1977 : 32) adalah suatu proses yang kontinu. Pengertian
proses dalam hal ini adalah mengantisipasi dan menyiapkan berbagai kemungkinan,
atau usaha untuk menentukan dan mengontrol kemungkinan yang akan terjadi.
Dari
berbagai pengertian perencanaan itu tampak bahwa didalamnya terdapat beberapa
aspek penting. Sesuai dengan hal ini, Hatch dan Stefflre (1961) berpendapat
bahwa proses perencanaan adalah :
- The presence of a need (Kebutuhan secara langsung)
- An analisis of the situation (Sebuah analisis dari situasi)
- A riview of alternate possibilities (Jalan lain dari kemungkinan)
- The choice of a course of action (Memilih jenis kegiatan)
Pengajaran
merupakan suatu kegiatan atau upaya membantu para siswa mengembangkan
kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan dalam suatu bidang tertentu.
Secara
garis besar, perencanaan pengajaran mencakup kegiatan merumuskan tujuan-tujuan
apa yang dicapai oleh suatu kegiatan pengajaran, cara apa yang digunakan untuk
menilai pencapaian tersebut, materi apa atau bahan apa yang akan disampaikan,
bagaimana cara menyampaikan bahan, serta media/alat apa yang dieperlukan untuk
mendukung pelaksanaan pengajaran tersebut.
B.
Manfaat
Perencanaan Bimbingan dan Konseling
Adapun
manfaat dilakukannya perencaan program bk secara matang yaitu:
- Adanya kejelasan arah pelaksaan program bimbingan
- Adanya kemudahan mengontrol dan mengevaluasi kegiatan bimbingan yang dilakukan.
- Terlaksannya program kegiatan kegiatan bimbingan secara lancar efisien dan efektif.
C.
Langkah
– langkah Perencanaan Bimbingan dan Konseling
- Pengumpulan data/analisis kebutuhan siswa
- Menyiapkan metode
- Menganalisis
- Menyusun program
D.
Aspek
yang Dilakukan Sebelum Melaksanakan Perencanaan Bimbingan dan Konseling
Dalam
hubungannya dengan perencanaan program layanan Bimbingan dan Konseling
disekolah, maka ada beberapa aspek kegiatan penting yang perlu dilakukan yaitu
:
a) Analisis
kebutuhan dan permaslahan siswa
b) Penentuan
tujuan program layanan bimbingan yang hendak dicapai
c) Analisisi
situasi dan kondisi disekolah
d) Penentuan
jenis – jenis kegiatan yang akan dilakukan
e) Penetapatan
metode dan teknik yang akan digunakan dalam kegiatan
f) Penetapan
personil-personil yang akan melaksanakan kegiatanan yang telah ditetapkan
g) Persiapan
fasilitas dann biaya pelaksanaan kegiatan bimbingan yang direncanakan
h) Perkiraan
tentang hambatan yang akan ditemuai dan usaha-usaha apa yang akan dilakukan
dalam mengatasi hambatan – hambatan.
E.
Beberapa
Hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Perencanaan Program Pengajaran
Salah
satu hal yang harus diperhatikan oleh seorang guru pembimbing dalam
merencanakan program BK adalah faktor
waktu. Dalam perencanaan program BK, guru pembimbing harus dapat mengatur
waktu untuk menyusun, melaksanakan, menilai, menganalisis, dan menindaklanjuti
program kegiatan BK dengan memperhatikan hal-hal berikut :
- Semua jenis program BK (tahunan, semesteran, bulanan, mingguan dan harian)
- Kontak langsung dengan siswa yang dilayani
- Kegiatan bimbingan dan konseling tidak merugikan waktu belajar disekolah
- Kegiatan bk diluar jam sekolah dapat sampai 50%
Dalam
kaitannya dengan waktu untuk melaksanakan kegitan BK, SK Mendikbud No.
025/O/1995 mengemukakan bahwa kegitan BK dapat dilaksanakan didalam atau diluar
jam pelajaran sekolah. Guru pembimbing harus membuat perencanaan program satuan
layanan dan kegiatan pendukung (eksteren) yang masing-masing dapat dilakukan
didalam atau diluar jam pelajaran sekolah.
Kegiatan
diluar jam pelajaran sekolah adalah kegiatan yang memerlukan tatap muka atau
kontak langsung dengan siswa. Misalnya kegiatan konseling perorangan, bimbingan
kelompok dan konseloing kelompok yang dilakukan pada sore hari bagi siswa yang
masuk sekolah pagi, dan sebaliknya.
Kagiatan
didalam jam pelajaran sekolah adalah seperti himpunan data, konferensi kasus,
dan kunjungan rumah.
Selain
faktor waktu yang perlu diperhatikan oleh guru pembimbing dalam merencanakan
program BK adalah harus mampu membuat
jadwal kegiatan BK didalam dan diluar jam belajar sekolah untuk memenuhi
minimal tugas wajib mingguan. Dalam kurikulum 2004 tidak tertera alokasi jam
secara khusus untuk program kegiatan BK. Dalam kaitan seperti itu, ada beberapa
hal yang perlu diupayan yaitu:
- Pertama, sekolah mengusahakan ada waktu tertentu didalam jam pelajaran sekolah untuk kegiatan bimbingan
- Kedua, guru pembimbing harus jeli melihat waktu luang yang ada didalam jam pelajaran sekolah untuk kegiatan bimbingan.
Perencanaan
kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mengacu pada program tahunan yang
telah dijabarkan ke dalam program semesteran, bulanan serta mingguan.
Perencanaan
kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling harian yang merupakan penjabaran
dari program mingguan disusun dalam bentuk satuan layanan (SATLAN) dan satuan
pendukung (SATKUNG) yang masing-masing memuat:
(a) sasaran
layanan/kegiatan pendukung
(b) substansi
layanan/kegiatan pendukung
(c) jenis
layanan/kegiatan pendukung, serta alat bantu yang digunakan
(d) pelaksana
layanan/kegiatan pendukung dan pihak-pihak yang terlibat
(e) waktu
dan tempat.
F.
Pelaksanaan
Program Kegiatan Bimbingan Dan Konseling
Unsur-
unsur yang terdapat di dalam tugas pokok guru pembimbing meliputi:
- Bidang- bidang bimbingan
- Jenis- jenis layanan bimbingan dan konseling
- Jenis- jenis kegiatan pendukung bimbingan dan konseling
- Tahapan pelaksnaan program bimbingan dan konseling dan
- Jumlah siswa yang menjadi tanggung jawab guru pembimbing untuk memperoleh pelayanan (minimal 150 siswa).
Dengan
terwujudnya mekanisme, pola kerja, atau prosedur kerja yang rapi, teratur dan
baik serta dilandasi oleh bentuk-bentuk kerjasama dengan personel sekolah dalam
administrasi pelaksanaan bimbingan dan konseling disekolah, maka dihindari
kecenderungan terjadinya penyimpangan dalam program pelaksanaan bimbingan dan
konseling disekolah.
Pelaksana
pelayanan Bimbingan dan Konseling di SD/MI/SDLB pada dasarnya adalah guru
kelas yang melaksanakan layanan orientasi, informasi, penempatan dan
penyaluran, dan penguasaan konten dengan menginfusikan materi
layanan tersebut ke dalam pembelajaran, serta untuk peserta didik Kelas
IV, V, dan VI dapat diselenggarakan layanan Bimbingan dan Konseling
perorangan, bimbingan kelompok, dan Bimbingan dan Konseling kelompok.
Kegiatan
pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah/madrasah dipantau, dievaluasi, dan
dibina melalui kegiatan pengawasan. Pengawasan kegiatan pelayanan Bimbingan dan
Konseling dilakukan secara:
- Interen, oleh kepala sekolah/madrasah, yaitu kepala sekolah mengawasi pelaksanaan pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah, memantau kelengkapan administrasi program BK dan tujuan dari layanan BK apakah terlaksana dengan baik atau bahkan sebaliknya.
- Eksteren, oleh pengawas sekolah/madrasah bidang Bimbingan dan Konseling, yaitu pengawasan yang dilakukan oleh Dinas pendidikan.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari
pembahasan makalah yang telah kami sajikan, dapat ditarik kesimpulan bahwa
Perencanaan Pengajaran Bimbingan dan Konseling adalah suatu upaya dalam
mempersiapkan dan mengumpulkan data atau suatu proses yang kontinu untuk
menentukan dan mengontrol pembelajaran agar menghasilkan suatu perubahan
tingkah laku pada peserta didik.
DAFATAR PUSTAKA
Ibrahim,
R. & Syaodih S, Nana. (2010). Perencanaan
Pengajaran. Jakarta: PT. Rineka
Cipta.
Juntika
Nurihsan, Achmad. (2010). Strategi
Layanan Bimbingan & Konseling. Bandung:
PT. Refika Aditama.
Journal The Importance of
Leadership an Management for Education.
Dedi
Suriyadi, Prof. Dr. (2001). Manajemen
Berbasis Sekolah (MBS) dan Implikasinya
Terhadap Peningkatan Mutu Konselor, Makalah, Jurusan PPB-FIP UPI Bandung-ABKIN Pengda. Jawa
Barat: Bandung.
Tersedia
di:

