Powered By Blogger

Sabtu, 27 September 2014

Makalah Konsep Dasar Perencanaan Pengajaran Bimbingan dan Konseling

MAKALAH KELOMPOK PERENCANAAN PENGAJARAN BK
“KONSEP DASAR PERENCANAAN PENGAJARAN BK”

DOSEN PENGASUH: HASTIANI, M.Pd

DISUSUN OLEH KELOMPOK 1:

LIA TRISNAWATI
121200044
MERI DAHLIA
121200051
DESIANA
21200033
ELIZA
121200049


PRODI : BIMBINGAN DAN KONSELING
SEMESTER : V (GANJIL)
KELAS : A – PAGI
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
(IKIP – PGRI) PONTIANAK
2014

KATA PENGANTAR

            Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat, rahmat, bimbingan, serta petunjuknya-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “KONSEP DASAR PERENCANAAN PENGAJARAN BIMBINGAN DAN KONSEING” ini dengan baik dan tepat pada waktunya.
            Penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan makalah ini, terutama teman-teman kelompok 1 dan juga kepada Ibu Hastiani, M.Pd selaku dosen pengasuh mata kuliah PERENCANAAN PENGAJARAN BIMBINGAN DAN KONSELING karena telah memberi tugas ini.
            Besar harapan penulis bahwa makalah ini dapat bernilai baik, dan dapat digunakan dengan sebaik-baiknya. Penulis menyadari bahwa makalah yang penulis susun ini belumlah sempurna, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dalam rangka penyempurnaan untuk pembuatan makalah selanjutnya. Sebelum dan sesudahnya penulis ucapkan terimakasih.

                                                                                                               Pontianak, 15 September 2014
                                                                                                                               Penulis

                                                                                                                        KELOMPOK 1



BAGIAN I
PENDAHULUAN
Indikator keberhasilan pendidikan nasional tidak hanya dilihat dari penguasaan anak didik secara akademis. Aspek psikomotor (gerak) dan afektif (rasa) menjadi bagian yang tidak kalah pentingnya dalam mewujudkan kepribadian anak. Kecerdasan anak didik dipahami tidak hanya dari sisi otak, tetapi juga perilaku dan sikap positif anak. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional kontekstual yang tertuang dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tersebut tujuan pendidikan adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Secara tersirat, kemampuan yang harus dimiliki siswa selain aspek akademis juga aspek perkembangan pribadi, sosial, kematangan intelektual dan sistem nilai peserta didik. Terkait dengan itu bahwa pendidikan yang bermutu di Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah pendidikan yang mengantarkan siswa pada pencapaian standard akademis yang diharapkan dalam kondisi perkembangan diri yang sehat dan optimal.
Siswa SMP sebagian besar remaja awal yang memiliki karakteristik, kebutuhan dan tugas-tugas perkembangan yang harus terpenuhi. Pada masa sekarang, remaja usia SMP dihadapkan pada problematika social akibat dampak negative perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berbagai hiburan dimedia massa secara perlahan melakukan pendangkalan moral sehingga membentuk sikap pragamtisme remaja. Mereka terobsesi hidup enak secara instant, kendati harus “tersesat” di jalan.


BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Perencanaan Bimbingan Konseling
Dalam Jurnal yang berjudul The Importance of Leadership an Management for Education, dari perspektif India, Sapre (2002: 102) menyatakan bahwa perencanaan adalah serangkaian kegiatan diarahkan efisien dan pemanfaatan yang efektif dari sumber daya organisasi dalam rangka mencapai tujuan organisasi.
Penulis ini berpendapat secara konsisten (Bush, 1986; 1995; 1999; 2003) bahwa manajemen pendidikan harus terpusat terkait dengan akan tujuan atau tujuan pendidikan. Ini adalah subjek terus perdebatan dan ketidaksepakatan, tetapi prinsip menghubungkan kegiatan manajemen dan tugas untuk maksud dan tujuan dari sekolah atau perguruan tinggi tetap penting.
Sedangkan penekanan pada tujuan pendidikan adalah penting, hal ini tidak berarti bahwa semua tujuan atau sasaran yang tepat, terutama jika mereka dipaksakan dari luar sekolah oleh pemerintah atau badan resmi lainnya. Mengelola terhadap pencapaian tujuan pendidikan sangat penting tetapi ini harus disetujuan dan disepakati oleh sekolah dan masyarakat.
Dalam Manajemen Bimbingan dan Konseling pengertian perencanaan menurut H. J. Burbach dan L. E. Decker (1977 : 32) adalah suatu proses yang kontinu. Pengertian proses dalam hal ini adalah mengantisipasi dan menyiapkan berbagai kemungkinan, atau usaha untuk menentukan dan mengontrol kemungkinan yang akan terjadi.

Dari berbagai pengertian perencanaan itu tampak bahwa didalamnya terdapat beberapa aspek penting. Sesuai dengan hal ini, Hatch dan Stefflre (1961) berpendapat bahwa proses perencanaan adalah :
  1. The presence of a need (Kebutuhan secara langsung)
  2. An analisis of the situation (Sebuah analisis dari situasi)
  3. A  riview of alternate possibilities (Jalan lain dari kemungkinan)
  4. The choice of a course of action (Memilih jenis kegiatan)

Pengajaran merupakan suatu kegiatan atau upaya membantu para siswa mengembangkan kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan dalam suatu bidang tertentu.
Secara garis besar, perencanaan pengajaran mencakup kegiatan merumuskan tujuan-tujuan apa yang dicapai oleh suatu kegiatan pengajaran, cara apa yang digunakan untuk menilai pencapaian tersebut, materi apa atau bahan apa yang akan disampaikan, bagaimana cara menyampaikan bahan, serta media/alat apa yang dieperlukan untuk mendukung pelaksanaan pengajaran tersebut.

B.       Manfaat Perencanaan Bimbingan dan Konseling
Adapun manfaat dilakukannya perencaan program bk secara matang yaitu:
  1. Adanya kejelasan arah pelaksaan program bimbingan
  2. Adanya kemudahan mengontrol dan mengevaluasi kegiatan bimbingan yang dilakukan.
  3. Terlaksannya program kegiatan kegiatan bimbingan secara lancar efisien dan efektif.
C.      Langkah – langkah Perencanaan Bimbingan dan Konseling
  1. Pengumpulan data/analisis kebutuhan siswa
  2. Menyiapkan metode
  3. Menganalisis
  4. Menyusun program

D.      Aspek yang Dilakukan Sebelum Melaksanakan Perencanaan Bimbingan dan Konseling
Dalam hubungannya dengan perencanaan program layanan Bimbingan dan Konseling disekolah, maka ada beberapa aspek kegiatan penting yang perlu dilakukan yaitu :
a)      Analisis kebutuhan dan permaslahan siswa
b)      Penentuan tujuan program layanan bimbingan yang hendak dicapai
c)      Analisisi situasi dan kondisi disekolah
d)     Penentuan jenis – jenis kegiatan yang akan dilakukan
e)      Penetapatan metode dan teknik yang akan digunakan dalam kegiatan
f)       Penetapan personil-personil yang akan melaksanakan kegiatanan yang telah ditetapkan
g)      Persiapan fasilitas dann biaya pelaksanaan kegiatan bimbingan yang direncanakan
h)      Perkiraan tentang hambatan yang akan ditemuai dan usaha-usaha apa yang akan dilakukan dalam mengatasi hambatan – hambatan.

E.       Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Perencanaan Program Pengajaran
Salah satu hal yang harus diperhatikan oleh seorang guru pembimbing dalam merencanakan program BK adalah faktor waktu. Dalam perencanaan program BK, guru pembimbing harus dapat mengatur waktu untuk menyusun, melaksanakan, menilai, menganalisis, dan menindaklanjuti program kegiatan BK dengan memperhatikan hal-hal berikut :
  1. Semua jenis program BK (tahunan, semesteran, bulanan, mingguan dan harian)
  2. Kontak langsung dengan siswa yang dilayani
  3. Kegiatan bimbingan dan konseling tidak merugikan waktu belajar disekolah
  4. Kegiatan bk diluar jam sekolah dapat sampai 50%

Dalam kaitannya dengan waktu untuk melaksanakan kegitan BK, SK Mendikbud No. 025/O/1995 mengemukakan bahwa kegitan BK dapat dilaksanakan didalam atau diluar jam pelajaran sekolah. Guru pembimbing harus membuat perencanaan program satuan layanan dan kegiatan pendukung (eksteren) yang masing-masing dapat dilakukan didalam atau diluar jam pelajaran sekolah.
Kegiatan diluar jam pelajaran sekolah adalah kegiatan yang memerlukan tatap muka atau kontak langsung dengan siswa. Misalnya kegiatan konseling perorangan, bimbingan kelompok dan konseloing kelompok yang dilakukan pada sore hari bagi siswa yang masuk sekolah pagi, dan sebaliknya.
Kagiatan didalam jam pelajaran sekolah adalah seperti himpunan data, konferensi kasus, dan kunjungan rumah.
Selain faktor waktu yang perlu diperhatikan oleh guru pembimbing dalam merencanakan program BK adalah harus mampu membuat jadwal kegiatan BK didalam dan diluar jam belajar sekolah untuk memenuhi minimal tugas wajib mingguan. Dalam kurikulum 2004 tidak tertera alokasi jam secara khusus untuk program kegiatan BK. Dalam kaitan seperti itu, ada beberapa hal yang perlu diupayan yaitu:
  1. Pertama, sekolah mengusahakan ada waktu tertentu didalam jam pelajaran sekolah untuk kegiatan bimbingan
  2. Kedua, guru pembimbing harus jeli melihat waktu luang yang ada didalam jam pelajaran sekolah untuk kegiatan bimbingan.
Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mengacu pada program tahunan yang telah dijabarkan ke dalam program semesteran, bulanan serta mingguan.

Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling harian yang merupakan penjabaran dari program mingguan disusun dalam bentuk satuan layanan (SATLAN) dan satuan pendukung (SATKUNG) yang masing-masing memuat:
(a)    sasaran layanan/kegiatan pendukung
(b)   substansi layanan/kegiatan pendukung
(c)    jenis layanan/kegiatan pendukung, serta alat bantu yang digunakan
(d)   pelaksana layanan/kegiatan pendukung dan pihak-pihak yang terlibat
(e)    waktu dan tempat.

F.       Pelaksanaan Program Kegiatan Bimbingan Dan Konseling
Unsur- unsur yang terdapat di dalam tugas pokok guru pembimbing meliputi:
  • Bidang- bidang bimbingan
  • Jenis- jenis layanan bimbingan dan konseling
  • Jenis- jenis kegiatan pendukung bimbingan dan konseling
  • Tahapan pelaksnaan program bimbingan dan konseling dan
  • Jumlah siswa yang menjadi tanggung jawab guru pembimbing untuk memperoleh pelayanan (minimal 150 siswa).

Dengan terwujudnya mekanisme, pola kerja, atau prosedur kerja yang rapi, teratur dan baik serta dilandasi oleh bentuk-bentuk kerjasama dengan personel sekolah dalam administrasi pelaksanaan bimbingan dan konseling disekolah, maka dihindari kecenderungan terjadinya penyimpangan dalam program pelaksanaan bimbingan dan konseling disekolah.
Pelaksana pelayanan Bimbingan dan Konseling di SD/MI/SDLB pada dasarnya adalah guru kelas yang melaksanakan layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, dan penguasaan konten dengan menginfusikan materi layanan tersebut ke dalam pembelajaran, serta untuk peserta didik Kelas IV, V, dan VI dapat diselenggarakan layanan Bimbingan dan Konseling perorangan, bimbingan kelompok, dan Bimbingan dan Konseling kelompok.
Kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah/madrasah dipantau, dievaluasi, dan dibina melalui kegiatan pengawasan. Pengawasan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dilakukan secara:
  1. Interen, oleh kepala sekolah/madrasah, yaitu kepala sekolah mengawasi pelaksanaan pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah, memantau kelengkapan administrasi program BK dan tujuan dari layanan BK apakah terlaksana dengan baik atau bahkan sebaliknya.
  2. Eksteren, oleh pengawas sekolah/madrasah bidang Bimbingan dan Konseling, yaitu pengawasan yang dilakukan oleh Dinas pendidikan.


BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Dari pembahasan makalah yang telah kami sajikan, dapat ditarik kesimpulan bahwa Perencanaan Pengajaran Bimbingan dan Konseling adalah suatu upaya dalam mempersiapkan dan mengumpulkan data atau suatu proses yang kontinu untuk menentukan dan mengontrol pembelajaran agar menghasilkan suatu perubahan tingkah laku pada peserta didik.



DAFATAR PUSTAKA

Ibrahim, R. & Syaodih S, Nana. (2010). Perencanaan Pengajaran. Jakarta: PT.      Rineka Cipta.
Juntika Nurihsan, Achmad. (2010). Strategi Layanan Bimbingan & Konseling.       Bandung: PT. Refika Aditama.
Journal The Importance of Leadership an Management for Education.
Dedi Suriyadi, Prof. Dr. (2001). Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan   Implikasinya Terhadap Peningkatan Mutu Konselor, Makalah, Jurusan   PPB-FIP UPI Bandung-ABKIN Pengda. Jawa Barat: Bandung.
Tersedia di:

Kamis, 27 Maret 2014

Konsep Media Pembelajaran


TUGAS KELOMPOK MEDIA PEMBELAJARAN
“KONSEP MEDIA PEMBELAJARAN”

DISUSUN OLEH KELOMPOK 1:

ELIZA
121200049
INDAH AYU INDRIANI
121200069


PRODI : BIMBINGAN DAN KONSELING
SEMESTER : IV (GENAP)
KELAS : A – PAGI



INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
(IKIP – PGRI) PONTIANAK
2014



A.      Pengertian Media Pembelajaran
Secara umum media merupakan kata jamak dari “medium” yang berarti perantara atau pengantar. Kata media berlaku untuk berbagai kegiatan atau usaha, seperti dalam penyampaiaan pesan, media pengantar magnet atau panas dalam bidang teknik. Istilah media digunakan juga dalam bidang pengajaran atau pendidikan sehingga istilahnya menjadi media pendidikan atau media pebelajaran.

Ada beberapa konsep atau definisi media pendidikan atau media pembelajaran. Rossi dan Breidle (1996:3) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah seluruh alat  dan bahan yang dapat dipakai untuk mencapai tujuan pendidikan seperti radio, televisi, buku, koran, majalah dan sebagainya. Menurut Rossi alat- alat semacam radio dan televisi kalau digunakan dan diprogram untuk pendidikan maka merupakan media pembelajaran. 

Namun demikian, media bukan hanya berupa alat atau bahan saja, akan tetapi hal-hal yang memungkinkan siswa dapat memperoleh pengetahuan. Menurut Gerlach secara umum media itu meliputi orang, bahan, peralatan atau kegiatan yang menciptaan kondisi yang memungkinkan siswa memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Jadi, dalam pengertian ini media bukan hanya alat perantara seperti TV, radio, slide, bahan cetakan, tetapi meliputi orang atau manusia sebagai sumber belajar atau juga berupa kegiatan semacam diskusi, seminar, karya, wisata, simulasi, dan lain sebagainya yang dikondisikan untuk menambah pengetahuan dan wawasan, mengubah sikap siswa, atau untuk menambah keterampilan.

Selain pengertian di atas, ada juga yang berpendapat bahwa media pengajaran meliputi perangankat keras (hardware) dan perangkat lunak (software). Hardware adalah alat- alat yang dapat mengantarkan pesan seperti radio dan Tv. Sedangkan software adalah isi program yang mengandung pesan seperti informasiyang terdapat pada transparansi atau buku dan bahan-bahan cetakan lainnya, cerita yang terkandung dalam film atau materi yang disuguhkan dalam bentuk bagan, grafik, diagram, dan lain sebagainya. 

Dalam pengertian teknologi pendidikan, media atau bahan sebagai sumber belajar merupakan komponen dari sistem pembelajaran di samping pesan, orang, teknik latar dan peralatan. Pengertian media ini masih sering dikacaukan dengan peralatan. Media atau bahan adalah perangkat lunak (software) berisi pesan atau informasi pendidikan yang biasanya disajikan dengan menggunakan peralatan. Peralatan atau perangkat keras (hardware) merupakan sarana untuk dapat menampilkan pesan yang terkandung pada media tersebut (Arief S. Sadiman dkk, 2006: 19). Jadi, media terdiri atas dua unsur yaitu perangkat keras (hardware) atau alat dan perangkat lunak (software) atau bahan. Transparansi, program video adalah software atau bahan. Software atau bahan tersebut hanya bisa disajikan jika tersedia alatnya, yaitu OHP dan video player.

Agar lebih jelas lagi perlu juga dikemukakan konsep lain yang sangat berkaitan dengan media pembelajaran, yaitu sumber belajar. Konsep sumber belajar memiliki cakupan yang lebih luas, yaitu semua sumber (baik berupa data, orang, benda) yang dapat digunakan untuk memberi fasilitas/kemudahan belajar bagi peserta didik. 

Sumber belajar meliputi:
  • Pesan (ide, fakta, data, ajaran, informasi, dll
  • Orang (guru, dosen, instruktur, widyaiswara, dll) 
  • Bahan (buku teks, modul, transparansi, kaset program audio, film, program CAI/CBI, dll 
  • Teknik (praktikum, demonstrasi, diskusi, tutorial, pembelajaran mandiri, dll) 
  • Lingkungan (gedung sekolah, kebun, pasar, dll)

B.       Posisi Media Pembelajaran
Bruner (1966) mengungkapkan ada tiga tingkatan utama modus belajar, seperti: enactive (pengalaman langsung), iconic (pengalaman piktorial atau gambar), dan symbolic (pengalaman abstrak). Pemerolehan pengetahuan dan keterampilan serta perubahan sikap dan perilaku dapat terjadi karena adanya interaksi antara pengalaman baru dengan pengalaman yang telah dialami sebelumnya melalui proses belajar. Sebagai ilustrasi misalnya, belajar untuk memahami apa dan bagaimana mencangkok. Dalam tingkatan pengalaman langsung, untuk memperoleh pemahaman pebelajar secara langsung mengerjakan atau membuat cangkokan. Pada tingkatan kedua, iconic, pemahaman tentang mencangkok dipelajari melalui gambar, foto, film atau rekaman video. Selanjutnya pada tingkatan pengalaman abstrak, siswa memahaminya lewat membaca atau mendengar dan mencocokkannya dengan pengalaman melihat orang mencangkok atau dengan pengalamannya sendiri.

Berdasarkan uraian di atas, maka dalam proses belajar mengajar sebaiknya diusahakan agar terjadi variasi aktivitas yang melibatkan semua alat indera pembelajar. Semakin banyak alat indera yang terlibat untuk menerima dan mengolah informasi (isi pelajaran), semakin besar kemungkinan isi pelajaran tersebut dapat dimengerti dan dipertahankan dalam ingatan pembelajar. Jadi agar pesan-pesan dalam materi yang disajikan dapat diterima dengan mudah (atau pembelajaran berhasil dengan baik), maka pengajar harus berupaya menampilkan stimulus yang dapat diproses dengan berbagai indera pebelajar. Pengertian stimulus dalam hal ini adalah suatu “perantara” yang menjembatani antara penerima pesan (pembelajar) dan sumber pesan (pengajar) agar terjadi komunikasi yang efektif.

Media pembelajaran merupakan suatu perantara seperti apa yang dimaksud pada pernyataan di atas. Dalam kondisi ini, media yang digunakan memiliki posisi sebagai alat bantu dalam kegiatan pembelajaran, yaitu alat bantu mengajar bagi guru (teaching aids). Misalnya alat-alat grafis, photografis, atau elektronik untuk menangkap, memproses, dan menyususn kembali informasi visual atau verbal. Sebagai alat bantu dalam mengajar, media diharapkan dapat memberikan pengalaman kongkret, motivasi belajar, mempertinggi daya serap dan retensi belajar siswa. Sehingga alat bantu yang banyak dan sering digunakan adalah alat bantu visual, seperti gambar, model, objek tertentu, dan alat-alat visual lainnya. Oleh karena dianggap sebagai alat bantu, guru atau orang yang membuat media tersebut kurang memperhatikan aspek desainnya, pengembangan pembelajarannya, dan evaluasinya.

Dengan kemajuan teknologi di berbagai bidang, misalnya dalam teknologi komunikasi dan informasi pada saat ini, media pembelajaran memiliki posisi sentral dalam proses belajar dan bukan semata-mata sebagai alat bantu. Media pembelajaran memainkan peran yang cukup penting untuk mewujudkan kegiatan belajar menjadi lebih efektif dan efisien. Dalam posisi seperti ini, penggunaan media pembelajaran dikaitkan dengan apa-apa saja yang dapat dilakukan oleh media, yang mungkin tidak mampu dilakukan oleh guru (atau guru melakukannya kurang efisien). Dengan kehadiran media pembelajaran maka posisi guru bukan lagi sebagai satu-satunya sumber belajar, tetapi sebagai fasilitator. Bahkan pada saat ini media telah diyakini memiliki posisi sebagai sumber belajar yang menyangkut keseluruhan lingkungan di sekitar pembelajaran.

C.      Fungsi Media Pembelajaran
Dalam suatu proses belajar mengajar, dua unsur yang amat penting adalah metode mengajar dan media pembelajaran . kedua aspek ini saling berkaitan, pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengarui jenis media pembelajaran yang sesuai, meskipun masih ada berbagai aspek lain yang harus diperhatikan dalam memilih media, antara lain tujuan pembelajaran, jenis tugas dan respon yang diharapkan siswa kuasai setelah pembelajaran belangsung, dan kontek pembelajaran termasuk karakteristik siswa. Meskipun demikian, dapat dikatakan bahwa salah satu fungsi utama media pembelajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belaran yang ditata dan diciptakkan oleh guru.

Hamalik (1986) mengemukakan bahwa pemakai media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegitan belajar, dan bahkan membawa pengaruh – pengaruh psikologis terhadap siswa.

Levie & Lentz (1982) mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu 
  1. Fungsi Atensi, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran 
  2. Fungsi Afektif dapat dilihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar atau bergambar. 
  3. Fungsi Kognitif terlihat dari temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar. 
  4. Fungsi Kompensatoris terlihat hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan kontek untuk memahami teks membantu siswa yanng lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan inpormasi dan mengingatnya kembali.

Menurut Kemp & Dayton (1985 : 28), ada tiga pungsi utama apabila media pembelajaran itu digunakan untuk perorangan, kelompok, atau kelompok pendengar yang besar jumlahnya, yaitu:
  1. Memotivasi minat atau tindakan. 
  2. Menyajikan informasi. 
  3. Memberi instruksi.   
Menurut Sudjana & Rivai (1992:2) mengemukakan manfaat media pembelajaran dalam proses belajar siswa, yaitu:
  1. Pembelajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat motivasi belajar. 
  2. Bahan pembelajran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh siswa memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pembelajaran. 
  3. Metode mengajar akan lebih berpariasi, tidak semata – mata komunikasi verbal melalui penuturan kata – kata oleh guru sehingga siswa gidak bosan dan guru tidak kehabisa tenaga. 
  4. Siswa dapat lebih banyak melakukan kegiatan belajar sebab tidak hanya mendengarkan uraian guru, tetapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrsikan, memerankan dan lain – lain.
Sedangkan menurut Criticos (1996), tujuan pembelajaran, hasil belajar, isi materi ajar, rangkaian dan strategi pembelajaran adalah kriteria untuk seleksi dan produksi media. Dengan demikian, penataan pembelajaran (iklim, kondisi, dan lingkungan belajar) yang dilakukan oleh seorang pengajar dipengaruhi oleh peran media yang digunakan.

Sadiman, dkk (1990) menyampaikan fungsi media (media pendidikan) secara umum, adalah sebagai berikut:
(a)    Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat visual.
(b)   Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indera, misal objek yang terlalu besar untuk dibawa ke kelas dapat diganti dengan gambar, slide, dsb, peristiwa yang terjadi di masa lalu bisa ditampilkan lagi lewat film, video, fota atau film bingkai.
(c)    Meningkatkan kegairahan belajar, memungkinkan siswa belajar sendiri berdasarkan minat dan kemampuannya, dan mengatasi sikap pasif siswa.
(d)   Memberikan rangsangan yang sama, dapat menyamakan pengalaman dan persepsi siswa terhadap isi pelajaran.

Berdasarkan atas beberapa fungsi media pembelajaran yang dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan media dalam kegiatan belajar mengajar memiliki pengaruh yang besar terhadap alat-alat indera. Terhadap pemahaman isi pelajaran, secara nalar dapat dikemukakan bahwa dengan penggunaan media akan lebih menjamin terjadinya pemahaman yang lebih baik pada siswa. Pembelajar yang belajar lewat mendengarkan saja akan berbeda tingkat pemahaman dan lamanya “ingatan” bertahan, dibandingkan dengan pembelajar yang belajar lewat melihat atau sekaligus mendengarkan dan melihat.

Media pembelajaran juga mampu membangkitkan dan membawa pembelajar ke dalam suasana rasa senang dan gembira, di mana ada keterlibatan emosianal dan mental. Tentu hal ini berpengaruh terhadap semangat mereka belajar dan kondisi pembelajaran yang lebih hidup, yang nantinya bermuara kepada peningkatan pemahaman pembelajar terhadap materi ajar.

Secara rinci, fungsi media dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut:
  1. Menyaksikan benda yang ada atau peristiwa yang terjadi pada masa lampau. Dengan perantaraan gambar, potret, slide, film, video, atau media yang lain, siswa dapat memperoleh gambaran yang nyata tentang benda/peristiwa sejarah.
  2. Mengamati benda/peristiwa yang sukar dikunjungi, baik karena jaraknya jauh, berbahaya, atau terlarang. Misalnya, video tentang kehidupan harimau di hutan, keadaan dan kesibukan di pusat reaktor nuklir, dan sebagainya.
  3. Memperoleh gambaran yang jelas tentang benda/hal-hal yang sukar diamati secara langsung karena ukurannya yang tidak memungkinkan, baik karena terlalu besar atau terlalu kecil. Misalnya dengan perantaraan paket siswa dapat memperoleh gambaran yang jelas tentang bendungan dan kompleks pembangkit listrik, dengan slide dan film siswa memperoleh gambaran tentang bakteri, amuba, dan sebaginya.
  4. Mendengar suara yang sukar ditangkap dengan telinga secara langsung. Misalnya, rekaman suara denyut jantung dan sebagainya.
  5. Mengamati dengan teliti binatang-binatang yang sukar diamati secara langsung karena sukar ditangkap. Dengan bantuan gambar, potret, slide, film atau video siswa dapat mengamati berbagai macam serangga, burung hantu, kelelawar, dan sebagainya.
  6. Mengamati peristiwa-peristiwa yang jarang terjadi atau berbahaya untuk didekati. Dengan slide, film, atau video siswa dapat mengamati pelangi, gunung meletus, pertempuran, dan sebagainya.
  7. Mengamati dengan jelas benda-benda yang mudah rusak/sukar diawetkan. Dengan menggunakan model/benda tiruan siswa dapat memperoleh gambaran yang jelas tentang organ-organ tubuh manusia seperti jantung, paru-paru, alat pencernaan, dan sebagainya.
  8. Dengan mudah membandingkan sesuatu. Dengan bantuan gambar, model atau foto siswa dapat dengan mudah membandingkan dua benda yang berbeda sifat ukuran, warna, dan sebagainya.
  9. Dapat melihat secara cepat suatu proses yang berlangsung secara lambat. Dengan video, proses perkembangan katak dari telur sampai menjadi katak dapat diamati hanya dalam waktu beberapa menit. Bunga dari kuncup sampai mekar yang berlangsung beberapa hari, dengan bantuan film dapat diamati hanya dalam beberapa detik.
  10. Dapat melihat secara lambat gerakan-gerakan yang berlangsung secara cepat. Dengan bantuan film atau video, siswa dapat mengamati dengan jelas gaya lompat tinggi, teknik loncat indah, yang disajikan secara lambat atau pada saat tertentu dihentikan.
  11. Mengamati gerakan-gerakan mesin/alat yang sukar diamati secara langsung. Dengan film atau video dapat dengan mudah siswa mengamati jalannya mesin 4 tak, 2 tak, dan sebagainya.
  12. Melihat bagian-bagian yang tersembunyi dari sutau alat. Dengan diagram, bagan, model, siswa dapat mengamati bagian mesin yang sukar diamati secara langsung.
  13. Melihat ringkasan dari suatu rangkaian pengamatan yang panjang/lama. Setelah siswa melihat proses penggilingan tebu atau di pabrik gula, kemudian dapat mengamati secara ringkas proses penggilingan tebu yang disajikan dengan menggunakan film atau video (memantapkan hasil pengamatan).
  14. Dapat menjangkau audien yang besar jumlahnya dan mengamati suatu obyek secara serempak. Dengan siaran radio atau televisi ratusan bahkan ribuan mahasiswa dapat mengikuti kuliah yang disajikan seorang profesor dalam waktu yang sama.
  15. Dapat belajar sesuai dengan kemampuan, minat, dan temponya masing-masing. Dengan modul atau pengajaran berprograma, siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan, kesempatan, dan kecepatan masing-masing

D.      Kesimpulan
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk memotivasi, merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik agar peserta didik tidak bosan dan jenuh, sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.

Media pembelajaran memiliki posisi sentral dalam proses pembebelajaran, fungsi media pembelajaran tersebut adalah sebagai alat bantu dalam kegiatan belajar mengajar, membantu meningkatkan pemahaman siswa dan memudahkan penafsiran data dalam proses pembelajaran.
 

E.       Sumber Buku

Arsyad, Azhar. 2010. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sanjaya, Wina. 2008. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.