Powered By Blogger

Sabtu, 27 September 2014

Makalah Konsep Dasar Perencanaan Pengajaran Bimbingan dan Konseling

MAKALAH KELOMPOK PERENCANAAN PENGAJARAN BK
“KONSEP DASAR PERENCANAAN PENGAJARAN BK”

DOSEN PENGASUH: HASTIANI, M.Pd

DISUSUN OLEH KELOMPOK 1:

LIA TRISNAWATI
121200044
MERI DAHLIA
121200051
DESIANA
21200033
ELIZA
121200049


PRODI : BIMBINGAN DAN KONSELING
SEMESTER : V (GANJIL)
KELAS : A – PAGI
INSTITUT KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA
(IKIP – PGRI) PONTIANAK
2014

KATA PENGANTAR

            Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat, rahmat, bimbingan, serta petunjuknya-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “KONSEP DASAR PERENCANAAN PENGAJARAN BIMBINGAN DAN KONSEING” ini dengan baik dan tepat pada waktunya.
            Penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan makalah ini, terutama teman-teman kelompok 1 dan juga kepada Ibu Hastiani, M.Pd selaku dosen pengasuh mata kuliah PERENCANAAN PENGAJARAN BIMBINGAN DAN KONSELING karena telah memberi tugas ini.
            Besar harapan penulis bahwa makalah ini dapat bernilai baik, dan dapat digunakan dengan sebaik-baiknya. Penulis menyadari bahwa makalah yang penulis susun ini belumlah sempurna, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dalam rangka penyempurnaan untuk pembuatan makalah selanjutnya. Sebelum dan sesudahnya penulis ucapkan terimakasih.

                                                                                                               Pontianak, 15 September 2014
                                                                                                                               Penulis

                                                                                                                        KELOMPOK 1



BAGIAN I
PENDAHULUAN
Indikator keberhasilan pendidikan nasional tidak hanya dilihat dari penguasaan anak didik secara akademis. Aspek psikomotor (gerak) dan afektif (rasa) menjadi bagian yang tidak kalah pentingnya dalam mewujudkan kepribadian anak. Kecerdasan anak didik dipahami tidak hanya dari sisi otak, tetapi juga perilaku dan sikap positif anak. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional kontekstual yang tertuang dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Dalam UU No. 20 Tahun 2003 tersebut tujuan pendidikan adalah untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Secara tersirat, kemampuan yang harus dimiliki siswa selain aspek akademis juga aspek perkembangan pribadi, sosial, kematangan intelektual dan sistem nilai peserta didik. Terkait dengan itu bahwa pendidikan yang bermutu di Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah pendidikan yang mengantarkan siswa pada pencapaian standard akademis yang diharapkan dalam kondisi perkembangan diri yang sehat dan optimal.
Siswa SMP sebagian besar remaja awal yang memiliki karakteristik, kebutuhan dan tugas-tugas perkembangan yang harus terpenuhi. Pada masa sekarang, remaja usia SMP dihadapkan pada problematika social akibat dampak negative perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berbagai hiburan dimedia massa secara perlahan melakukan pendangkalan moral sehingga membentuk sikap pragamtisme remaja. Mereka terobsesi hidup enak secara instant, kendati harus “tersesat” di jalan.


BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengertian Perencanaan Bimbingan Konseling
Dalam Jurnal yang berjudul The Importance of Leadership an Management for Education, dari perspektif India, Sapre (2002: 102) menyatakan bahwa perencanaan adalah serangkaian kegiatan diarahkan efisien dan pemanfaatan yang efektif dari sumber daya organisasi dalam rangka mencapai tujuan organisasi.
Penulis ini berpendapat secara konsisten (Bush, 1986; 1995; 1999; 2003) bahwa manajemen pendidikan harus terpusat terkait dengan akan tujuan atau tujuan pendidikan. Ini adalah subjek terus perdebatan dan ketidaksepakatan, tetapi prinsip menghubungkan kegiatan manajemen dan tugas untuk maksud dan tujuan dari sekolah atau perguruan tinggi tetap penting.
Sedangkan penekanan pada tujuan pendidikan adalah penting, hal ini tidak berarti bahwa semua tujuan atau sasaran yang tepat, terutama jika mereka dipaksakan dari luar sekolah oleh pemerintah atau badan resmi lainnya. Mengelola terhadap pencapaian tujuan pendidikan sangat penting tetapi ini harus disetujuan dan disepakati oleh sekolah dan masyarakat.
Dalam Manajemen Bimbingan dan Konseling pengertian perencanaan menurut H. J. Burbach dan L. E. Decker (1977 : 32) adalah suatu proses yang kontinu. Pengertian proses dalam hal ini adalah mengantisipasi dan menyiapkan berbagai kemungkinan, atau usaha untuk menentukan dan mengontrol kemungkinan yang akan terjadi.

Dari berbagai pengertian perencanaan itu tampak bahwa didalamnya terdapat beberapa aspek penting. Sesuai dengan hal ini, Hatch dan Stefflre (1961) berpendapat bahwa proses perencanaan adalah :
  1. The presence of a need (Kebutuhan secara langsung)
  2. An analisis of the situation (Sebuah analisis dari situasi)
  3. A  riview of alternate possibilities (Jalan lain dari kemungkinan)
  4. The choice of a course of action (Memilih jenis kegiatan)

Pengajaran merupakan suatu kegiatan atau upaya membantu para siswa mengembangkan kemampuan, pengetahuan, dan keterampilan dalam suatu bidang tertentu.
Secara garis besar, perencanaan pengajaran mencakup kegiatan merumuskan tujuan-tujuan apa yang dicapai oleh suatu kegiatan pengajaran, cara apa yang digunakan untuk menilai pencapaian tersebut, materi apa atau bahan apa yang akan disampaikan, bagaimana cara menyampaikan bahan, serta media/alat apa yang dieperlukan untuk mendukung pelaksanaan pengajaran tersebut.

B.       Manfaat Perencanaan Bimbingan dan Konseling
Adapun manfaat dilakukannya perencaan program bk secara matang yaitu:
  1. Adanya kejelasan arah pelaksaan program bimbingan
  2. Adanya kemudahan mengontrol dan mengevaluasi kegiatan bimbingan yang dilakukan.
  3. Terlaksannya program kegiatan kegiatan bimbingan secara lancar efisien dan efektif.
C.      Langkah – langkah Perencanaan Bimbingan dan Konseling
  1. Pengumpulan data/analisis kebutuhan siswa
  2. Menyiapkan metode
  3. Menganalisis
  4. Menyusun program

D.      Aspek yang Dilakukan Sebelum Melaksanakan Perencanaan Bimbingan dan Konseling
Dalam hubungannya dengan perencanaan program layanan Bimbingan dan Konseling disekolah, maka ada beberapa aspek kegiatan penting yang perlu dilakukan yaitu :
a)      Analisis kebutuhan dan permaslahan siswa
b)      Penentuan tujuan program layanan bimbingan yang hendak dicapai
c)      Analisisi situasi dan kondisi disekolah
d)     Penentuan jenis – jenis kegiatan yang akan dilakukan
e)      Penetapatan metode dan teknik yang akan digunakan dalam kegiatan
f)       Penetapan personil-personil yang akan melaksanakan kegiatanan yang telah ditetapkan
g)      Persiapan fasilitas dann biaya pelaksanaan kegiatan bimbingan yang direncanakan
h)      Perkiraan tentang hambatan yang akan ditemuai dan usaha-usaha apa yang akan dilakukan dalam mengatasi hambatan – hambatan.

E.       Beberapa Hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Perencanaan Program Pengajaran
Salah satu hal yang harus diperhatikan oleh seorang guru pembimbing dalam merencanakan program BK adalah faktor waktu. Dalam perencanaan program BK, guru pembimbing harus dapat mengatur waktu untuk menyusun, melaksanakan, menilai, menganalisis, dan menindaklanjuti program kegiatan BK dengan memperhatikan hal-hal berikut :
  1. Semua jenis program BK (tahunan, semesteran, bulanan, mingguan dan harian)
  2. Kontak langsung dengan siswa yang dilayani
  3. Kegiatan bimbingan dan konseling tidak merugikan waktu belajar disekolah
  4. Kegiatan bk diluar jam sekolah dapat sampai 50%

Dalam kaitannya dengan waktu untuk melaksanakan kegitan BK, SK Mendikbud No. 025/O/1995 mengemukakan bahwa kegitan BK dapat dilaksanakan didalam atau diluar jam pelajaran sekolah. Guru pembimbing harus membuat perencanaan program satuan layanan dan kegiatan pendukung (eksteren) yang masing-masing dapat dilakukan didalam atau diluar jam pelajaran sekolah.
Kegiatan diluar jam pelajaran sekolah adalah kegiatan yang memerlukan tatap muka atau kontak langsung dengan siswa. Misalnya kegiatan konseling perorangan, bimbingan kelompok dan konseloing kelompok yang dilakukan pada sore hari bagi siswa yang masuk sekolah pagi, dan sebaliknya.
Kagiatan didalam jam pelajaran sekolah adalah seperti himpunan data, konferensi kasus, dan kunjungan rumah.
Selain faktor waktu yang perlu diperhatikan oleh guru pembimbing dalam merencanakan program BK adalah harus mampu membuat jadwal kegiatan BK didalam dan diluar jam belajar sekolah untuk memenuhi minimal tugas wajib mingguan. Dalam kurikulum 2004 tidak tertera alokasi jam secara khusus untuk program kegiatan BK. Dalam kaitan seperti itu, ada beberapa hal yang perlu diupayan yaitu:
  1. Pertama, sekolah mengusahakan ada waktu tertentu didalam jam pelajaran sekolah untuk kegiatan bimbingan
  2. Kedua, guru pembimbing harus jeli melihat waktu luang yang ada didalam jam pelajaran sekolah untuk kegiatan bimbingan.
Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling mengacu pada program tahunan yang telah dijabarkan ke dalam program semesteran, bulanan serta mingguan.

Perencanaan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling harian yang merupakan penjabaran dari program mingguan disusun dalam bentuk satuan layanan (SATLAN) dan satuan pendukung (SATKUNG) yang masing-masing memuat:
(a)    sasaran layanan/kegiatan pendukung
(b)   substansi layanan/kegiatan pendukung
(c)    jenis layanan/kegiatan pendukung, serta alat bantu yang digunakan
(d)   pelaksana layanan/kegiatan pendukung dan pihak-pihak yang terlibat
(e)    waktu dan tempat.

F.       Pelaksanaan Program Kegiatan Bimbingan Dan Konseling
Unsur- unsur yang terdapat di dalam tugas pokok guru pembimbing meliputi:
  • Bidang- bidang bimbingan
  • Jenis- jenis layanan bimbingan dan konseling
  • Jenis- jenis kegiatan pendukung bimbingan dan konseling
  • Tahapan pelaksnaan program bimbingan dan konseling dan
  • Jumlah siswa yang menjadi tanggung jawab guru pembimbing untuk memperoleh pelayanan (minimal 150 siswa).

Dengan terwujudnya mekanisme, pola kerja, atau prosedur kerja yang rapi, teratur dan baik serta dilandasi oleh bentuk-bentuk kerjasama dengan personel sekolah dalam administrasi pelaksanaan bimbingan dan konseling disekolah, maka dihindari kecenderungan terjadinya penyimpangan dalam program pelaksanaan bimbingan dan konseling disekolah.
Pelaksana pelayanan Bimbingan dan Konseling di SD/MI/SDLB pada dasarnya adalah guru kelas yang melaksanakan layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, dan penguasaan konten dengan menginfusikan materi layanan tersebut ke dalam pembelajaran, serta untuk peserta didik Kelas IV, V, dan VI dapat diselenggarakan layanan Bimbingan dan Konseling perorangan, bimbingan kelompok, dan Bimbingan dan Konseling kelompok.
Kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah/madrasah dipantau, dievaluasi, dan dibina melalui kegiatan pengawasan. Pengawasan kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling dilakukan secara:
  1. Interen, oleh kepala sekolah/madrasah, yaitu kepala sekolah mengawasi pelaksanaan pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah, memantau kelengkapan administrasi program BK dan tujuan dari layanan BK apakah terlaksana dengan baik atau bahkan sebaliknya.
  2. Eksteren, oleh pengawas sekolah/madrasah bidang Bimbingan dan Konseling, yaitu pengawasan yang dilakukan oleh Dinas pendidikan.


BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Dari pembahasan makalah yang telah kami sajikan, dapat ditarik kesimpulan bahwa Perencanaan Pengajaran Bimbingan dan Konseling adalah suatu upaya dalam mempersiapkan dan mengumpulkan data atau suatu proses yang kontinu untuk menentukan dan mengontrol pembelajaran agar menghasilkan suatu perubahan tingkah laku pada peserta didik.



DAFATAR PUSTAKA

Ibrahim, R. & Syaodih S, Nana. (2010). Perencanaan Pengajaran. Jakarta: PT.      Rineka Cipta.
Juntika Nurihsan, Achmad. (2010). Strategi Layanan Bimbingan & Konseling.       Bandung: PT. Refika Aditama.
Journal The Importance of Leadership an Management for Education.
Dedi Suriyadi, Prof. Dr. (2001). Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) dan   Implikasinya Terhadap Peningkatan Mutu Konselor, Makalah, Jurusan   PPB-FIP UPI Bandung-ABKIN Pengda. Jawa Barat: Bandung.
Tersedia di:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar